Coba ingat kapan terakhir kali kamu kesal gara-gara video di media sosial butuh waktu tiga detik buat loading. Di kota-kota besar, sinyal drop sedikit saja langsung bikin tangan gatal ingin komplain ke customer service. Rasanya dunia seperti berhenti berputar.
Tapi coba geser pandangan sedikit ke luar pulau utama atau masuk ke daerah pelosok. Di sana, kesenjangan akses internet bukan sekadar soal video hiburan yang tersendat. Ini soal anak sekolah yang harus jalan berkilo-kilometer ke bukit demi mengirim tugas, atau pedagang lokal yang transaksi jualannya gagal terus gara-gara mesin pembayaran online mendadak kehilangan jaringan.
Jurang ini nyata. Padahal semua orang bicara tentang ekonomi digital yang katanya tumbuh pesat.
Kenapa kesenjangan akses internet begitu sulit dibereskan?
Penyebab utamanya jelas bentang alam. Indonesia bukan satu daratan luas yang gampang dipasangi tiang kabel dari ujung barat sampai timur. Negara kita terdiri dari belasan ribu pulau, deretan pegunungan, dan selat-selat dalam.
Menarik kabel fiber optic di bawah laut itu biayanya luar biasa mahal. Begitu kabel sampai di daratan pulau terpencil, tantangannya belum selesai. Membawa material menara pemancar ke atas bukit tanpa jalan aspal yang layak butuh perjuangan ekstra. Kadang genset listrik pun harus diangkut pakai perahu kayu.
Ada lagi faktor bisnis yang bikin rumit. Penyedia layanan internet tentu menghitung untung dan rugi. Membangun infrastruktur di area padat penduduk jauh lebih cepat balik modal dibanding membangun pemancar di desa berpenduduk sedikit. Makanya, wajar kalau operator swasta lebih memilih berlomba-lomba menawarkan kecepatan gigabit di kota metropolitan ketimbang memperluas jaringan ke pelosok yang pengguna hariannya bisa dihitung jari.
Dampaknya jauh lebih besar dari sekadar hiburan
Sering kali orang mengira internet cuma urusan media sosial atau nonton film. Padahal, di era sekarang, koneksi internet sudah setara dengan listrik atau air bersih. Begitu suatu daerah tertinggal koneksinya, hampir semua sektor ikut tersendat.
- Peluang usaha yang timpang: Pelaku usaha kecil di daerah terpencil susah bersaing di pasar nasional. Mau jualan di marketplace? Fotonya gagal upload. Mau terima pembayaran non-tunai? Mesinnya tidak dapat sinyal. Ujungnya, pasar mereka cuma mentok di tetangga sekitar.
- Akses pendidikan yang tertinggal: Materi belajar terbaik sekarang tersebar bebas di internet. Siswa yang punya akses stabil bisa belajar apa saja dari rumah. Sementara siswa di wilayah dengan sinyal pas-pasan harus puas dengan materi seadanya karena unduh satu file PDF modul pelajaran saja butuh waktu setengah jam.
- Layanan publik yang serba repot: Pemerintah giat mendigitalkan urusan administrasi, mulai dari pendaftaran bantuan sosial sampai urusan kependudukan. Tapi kalau warganya tidak punya internet stabil, digitalisasi ini justru bikin urusan makin panjang, bukan makin ringkas.
Satelit dan kabel laut: Apakah masalahnya sudah selesai?
Pemerintah dan swasta memang tidak tinggal diam. Proyek kabel laut nasional terus disambung, dan satelit internet berkecepatan tinggi juga mulai beroperasi melayani wilayah terluar. Tapi, apakah itu langsung menyelesaikan masalah?
Belum tentu. Keberadaan sinyal baru separuh dari cerita. Masalah berikutnya adalah biaya langganan dan ketersediaan perangkat.
Internet satelit, misalnya, teknologinya hebat dan bisa menjangkau puncak gunung sekalipun. Tapi harga perangkat penerima dan biaya bulanannya sering kali di luar jangkauan warga desa biasa. Kalau tarif internet per bulan memakan sebagian besar pemasukan keluarga, sinyal secepat apa pun akhirnya tidak terpakai.
Bukan cuma itu, kestabilan jaringan juga jadi ujian harian. Hujan badai sedikit, koneksi satelit bisa langsung drop. Listrik padam di desa, pemancar lokal mati total karena tidak ada cadangan daya yang memadai. Jadi jurangnya bukan cuma soal daerah mana yang punya sinyal dan mana yang tidak, tapi juga soal seberapa stabil dan terjangkaunya koneksi tersebut sehari-hari.
Bukan cuma tugas penyedia jaringan
Menutup jurang digital ini bukan semata-mata tanggung jawab perusahaan telekomunikasi. Para pengembang teknologi dan pembuat aplikasi juga punya peran besar yang sering terlupakan.
Banyak aplikasi masa kini dirancang dengan asumsi semua penggunanya tinggal di kota dengan jaringan 4G stabil dan smartphone kelas atas. Hasilnya? Aplikasi jadi berat, boros kuota, dan langsung macet begitu sinyal turun sedikit. Kalau pengguna di pelosok dipaksa memakai sistem seperti itu, mereka pasti frustrasi.
Pendekatan yang lebih ramah justru membuat aplikasi yang tetap bisa bekerja secara offline, lalu menyinkronkan data secara otomatis saat perangkat mendeteksi jaringan. Desain seperti ini jauh lebih masuk akal untuk realitas Indonesia hari ini.
Sebagai tim yang terbiasa membangun produk digital, kami di Nexadream sadar betul bahwa aplikasi yang bagus bukan cuma yang fiturnya canggih di layar presentasi, tapi yang benar-benar bisa dipakai oleh manusia di berbagai kondisi jaringan.
Kesenjangan ini memang belum akan hilang dalam semalam. Tapi menyadari bahwa saudara-saudara kita di seberang pulau punya perjuangan koneksi yang sangat berbeda adalah langkah awal supaya kita tidak kelewat sombong saat merayakan kemajuan ekonomi digital Indonesia.
Foto sampul oleh boris misevic di Unsplash.
Artikel ini bagian dari blog Nexadream, perusahaan software yang membangun produk digital untuk bisnis di Indonesia.
