Pernah melihat aplikasi dengan tampilan yang sangat keren, tapi begitu dipakai malah bikin bingung? Tombolnya nyempil di pojok, menu utamanya entah di mana, dan kamu langsung ingin menutupnya dalam waktu kurang dari satu menit. Desainnya bagus di mata, tapi gagal total di tangan pengguna.
Masalah ini sering banget terjadi waktu seseorang ingin membuat produk digital. Fokusnya cuma di warna yang estetik atau animasi yang mulus, tapi lupa memikirkan apakah orang benar-benar butuh alur tersebut. Padahal, proses desain produk yang benar punya tahapan yang jelas sebelum satu baris kode pun ditulis.
Tahap Pertama: Temukan Masalah Lewat Riset
Jangan langsung buka aplikasi desain dan mulai membuat kotak-kotak warna. Mulailah dari pertanyaan paling mendasar: masalah apa yang sedang kamu selesaikan?
Banyak founder terjebak membuat fitur yang menurut mereka keren, tapi ternyata tidak dibutuhkan oleh pelanggannya. Di sinilah pentingnya proses riset awal. Cari tahu kebiasaan calon pengguna, di mana letak kesusahan mereka, dan bagaimana mereka biasanya menyelesaikan masalah itu secara manual. Kalau kamu tidak tahu persis siapa yang akan memakai aplikasimu, produk yang kamu buat cuma akan jadi pajangan di smartphone.
Menerjemahkan Ide Menjadi UI/UX Design
Begitu masalahnya jelas, baru kita masuk ke ranah visual. Di tahap ini, ide di kepala mulai diterjemahkan ke dalam bentuk nyata melalui UI/UX Design. Apa bedanya kedua istilah itu?
- UX (User Experience): Mengatur alur perjalanan pengguna. Dari saat dia buka aplikasi sampai tujuan utamanya tercapai, jalurnya harus masuk akal dan tidak berputar-putar.
- UI (User Interface): Mempercantik tampilannya. Memilih warna yang nyaman di mata, ukuran huruf yang terbaca, dan tombol yang jelas terlihat.
Biasanya proses ini dimulai dari sketsa kasar di kertas atau coretan digital sederhana yang disebut wireframe. Tujuannya supaya kita bisa menguji alurnya dulu sebelum pusing memikirkan warna atau gambar.
Uji Coba Sebelum Masuk ke Pembuatan
Sebelum menyerahkan desain ke tim Product Engineering untuk mulai dikoding, ada satu langkah yang sering dilewati padahal sangat menentukan: uji coba prototipe.
Uji coba ini tidak ribet. Kamu bisa membuat tiruan desain yang bisa diklik layaknya aplikasi sungguhan, lalu berikan ke beberapa orang untuk dicoba. Amati ekspresi mereka. Kalau mereka kebingungan mencari tombol “Lanjut”, itu tandanya desainmu masih kurang intuitif. Lebih baik ketahuan salah di tahap desain daripada setelah aplikasinya selesai dikoding dan menghabiskan banyak biaya.
Menyatukan Desain ke Dalam Ekosistem Produk Digital
Desain yang baik tidak akan ada artinya kalau tidak bisa diwujudkan ke dalam teknologi yang andal. Setelah desain disetujui, saatnya proses Web Development atau pembuatan Mobile Apps berjalan. Di tahap ini, kolaborasi antara desainer dan programmer sangat menentukan apakah hasil akhirnya sesuai dengan rencana awal.
Kalau kamu tidak ingin repot mengurus proses yang panjang ini sendirian, kamu bisa bekerja sama dengan Nexadream yang siap membantumu mewujudkan produk digital dari nol secara terstruktur.
Jadi, proses desain produk bukan cuma soal bikin aplikasi kelihatan mahal. Ini tentang merancang pengalaman yang membuat orang betah memakainya dan menyelesaikan masalah mereka tanpa hambatan.
Foto sampul oleh Kelly Sikkema di Unsplash.
Artikel ini bagian dari blog Nexadream. Pelajari Nexadream lebih lanjut di nexadream.id.
